Trinitas adalah Monotheisme (Tauhid)

By zoelife 12 Jan 2018, 06:34:26 WIB Allah
Trinitas  adalah Monotheisme (Tauhid)

Trinitas (الثالوث القدس) adalah Monotheisme (Tauhid)

Baru-baru saja beredar sebuah video yang merekam wawancara seorang pengacara berinisial ES. Dalam wawancara tersebut, ia menyinggung keyakinan (baca :agama) lain yang dianggapnya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Pancasila dalam hal asas ketuhanan.

Lebih lanjut dalam wawancara tersebut, ES secara terang-terangan menyebut term Trinitas yang menurut pernyataannya sebelumnya, disimpulkan bertentangan dengan Pancasila sila pertama. Dengan demikian dinyatakan olehnya secara tidak langsung, Trinitas adalah asas Ketuhanan Kristen yang tidak berasaskan ketauhidan.

Saya sungguh menyayangkan pernyataanya yang tidak didasarkan atas pemahaman yang benar atas ajaran Kristen. Terlebih-lebih bila kita soroti dalam konteks hukum dan hubungan antar agama yang terus menerus dibangun di negeri ini. Pernyataannya tersebut justru dapat merobek-robek keharmonisan yang selama ini susah payah dibangun.

Soal hukum, saya serahkan kepada pemerintah yang memiliki kewenangan untuk itu. Saya akan menanggapi secara teologis sebagai seorang Kristen.

Saya akan menunjukkan berdasarkan teks-teks kitab suci sendiri, bahwa apa yang Es nyatakan tentang konsep Tuhan dalam iman Kristen sama sekali tidak benar.

Ketika seseorang baru membuka lembar pertama kitab Taurat, yakni Kejadian 1:1, ia akan menemukan pernyataan:

בְּרֵאשִׁ֖ית בָּרָ֣א אֱלֹהִ֑ים אֵ֥ת הַשָּׁמַ֖יִם וְאֵ֥ת הָאָֽרֶץ

“Bereshit bara Elohim et hasy-syamayim we et ha arets”

Artinya:
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”

Dalam ayat diatas jelas dinyatakan bahwa Allah Pencipta langit dan bumi. Kata kerja mencipta (Ibrani: BARA) dalam ayat diatas merupakan kata kerja orang ketiga tunggal. Artinya hanya Allah sendirilah Sang Pencipta. Ayat ini mematahkan pandangan kafir saat itu bahwa ada banyak ilah yang menciptakan langit dan bumi.

Jika anda membaca lebih jauh dalam kitab Taurat, anda akan menjumpai perintah Allah tentang tauhid pada bangsa Israel.

Keluaran 20:3
לא יהיה־לך אלהים אחרים על־פני
“Lo yihyeh lekha elohim akherim al-panaya”

Artinya:
“Jangan ada padamu ilah lain dihadapanKu”

Perintah diatas ditegaskan lebih jauh lagi dalam Sefer Ha Debarim/Ulangan 6:4
שׁמע ישׂראל יהוה אלהינו יהוה אחד
“Syema Yisra’el Adonay Eloheynu Adonay Ekhad”

Artinya:
“Dengarlah wahai orang Israel TUHAN itu ilah kita, TUHAN itu Esa”

Ayat diatas adalah syahadat orang Yahudi yang disebut sebagai Mitzvah Ha Risyonah (Hukum Yang Utama), dan diucapkan minimal tiga kali sehari dalam shalat mereka. Nah, karena kekristenan merupakan penggenapan dari nubuat-nubuat kitab TANAKH (Torah, Nebiyim we Ketubim), maka iman Kristen hanya meneruskan saja apa yang sudah diyakini dan tertulis dalam kitab-kitab tersebut.

Fakta ini dibuktikan dari beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang menyinggung soal keesaan Allah. Namun harus dipahami bahwa tema utama Perjanjian Baru bukanlah tentang keesaan Allah. Sebagai penerus tradisi iman dari Perjanjian Lama, iman Kristen mewarisi monotheisme Kitab Taurat yang tanpa kompromi. Karena itu, seperti yang akan dibuktikan dibawah ini, ajaran keesaan Allah dalam Perjanjian Baru tidak perlu diragukan lagi.

1 Korintus 8:6
namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”

Menariknya dalam Alkitab terjemahan bahasa Arab, ayat tersebut tertulis: و ان لا إله الا الله الاحد. Bila anda transliterasikan dalam huruf latin, kalimat diatas akan terbaca: “wa an lâ ilâha illal-lâh al-ahad”. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah: Tidak ada ilah selain Allah yang Esa. Ungkapan ini juga dikenal baik dalam Islam sebagai salah satu dari dua kalimat syahadat.

Lalu bagaimanakah dengan ketritunggalan itu sendiri? Baru saja dinyatakan bahwa iman Kristen meyakini keesaan Allah, tetapi kok Tritunggal? Bukankah ketritunggalan bertentangan dengan keesaan Allah? Begitu biasanya dikatakan oleh sebagian orang yang tidak memahami ajaran Kitab Suci tentang Allah Tritunggal. Berikut saya kutipkan tulisan Baba Shenouda III, Paus dari Gereja Koptik dalam bukunya: Qanun al-iman

إننا نؤمن بالثالوث القدوس و مع ذلك نؤمن بإله واحد

“Innana nu’minu bi ats-Tsaluts al-quddusi, wa ma’a dzalika nu’minu bi Ilahin wahid”

Artinya:
“Sesungguhnya kami percaya pada Tritunggal Mahakudus, dan bersamaan dengan itu, kami percaya pada keesaaan Allah”

Anda juga dapat membandingkan dengan apa yang ditulis oleh
Anba Yuanis, seorang teolog Koptik, mengenai ketauhidan iman Kristen:
يؤمن المسيحيون بإله واحد و ليس بثلاثة آلهة

“Yu’minu al-masihiyyun bi Ilahin wahid wa laysa bi tsalatsati alihah”
Artinya:
“Umat Kristen percaya pada Allah yang Esa dan bukan pada tiga ilah”

Maksudnya, keyakinan pada ketritunggalan Allah adalah keyakinan pada Allah yang Esa itu sendiri. Mengapa demikian? Karena ketritunggalan sama sekali tidak berkaitan dengan ilah yang lain. Ia hanya menjelaskan aspek-aspek kekayaan dalam diri Allah. Jika Allah itu Esa, bagaimanakah keesaan Allah itu harus dijelaskan dalam konteks sejarah penyelamatan umatNya.

Yang dimaksud dengan Allah Tritunggal adalah Allah yang Esa, yaitu Sang Bapa, yang dalam WujudNya berdiam secara kekal Firman (Yoh 1:1; Yoh 8:42) dan RuhNya/Hayat (Yoh 15:26; 1 Kor 2:10-11). Jadi ketritunggalan memang sama sekali tidak berbicara mengenai adanya eksistensi ilahi lainnya di luar diri Allah. Sebab menurut Kitab Suci, mengakui adanya ilah lain selain Allah adalah perbuatan syirik, yakni mempersekutukan Allah (Kel 20:3). Di dalam bahasa Arab, rumusan ketritunggalan biasa diungkapkan sebagai berikut:

أن الله واحد بالجوحر مثلث بالاقانيم الاب والابن والروح القدس
“Annallaha wahid bi al-Jauhar mutsallats bi al-aqonim al-Ab wa al-Ibn wa ar-Ruh al-Qudus”
Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu esa dalam Substansi/Ousia, tiga dalam uqnum,/hypostasis Sang Bapa, Putra dan Ruh Kudus.

Kata “Putra” dalam kalimat diatas tidak bermakna fisik, tetapi merupakan kiasan alkitabiah yang menunjuk Kalimatullah/Ilmu Allah yang berdiam dalam Wujud Allah (Sang Bapa). Dan Ruh Kudus adalah Hayat Allah/Hidup Allah yang juga berdiam dalam diri Allah, sama seperti ruh manusia yang bereksistensi dalam diri manusia. Permisalan ini diberikan untuk memudahkan pemahaman saja, dan bukan untuk menyamakan secara persis keadaan berdiamnya Roh Allah dalam diri Allah yang memang serba mengatasi pemaknaan lahiriah yang serba terbatas.

Hal keesaan Allah dalam iman Kristen ini juga diakui oleh Prof. K.H.M. Taib Thahir ‘Abd al-Mu’in dalam bukunya Ilmu Kalam:

“ Sebab itu wujudlah sebagai Jauhar (pokok atau asal), dan itulah Dzat yang Maha Esa pada hakekatNya. Adapun Ilmu dan Hayat, keduanya adalah sifat wujud belaka. Berdasarkan keterangan diatas, maka Allah, Kalimatullah dan Ruhul Qudus, lafaz atau ibarat itu yang terdapat dalam Injil tidaklah berarti menunjuk pada Dzat yang tiga pada hakekatNya.”

Satu contoh lagi dapat kita baca dalam tulisan Hasyim Muhammad yang berjudul: Kristologi Qur’ani:

“Rumusan tersebut berbunyi: Allahu wahid wa huwa tsalatsatu aqonim mutasawiyyat fi al-jauhar (Allah yang Esa memiliki tiga Hypostasis yang sehakekat dalam Jauhar atau DzatNya. Jika dilihat dari pandangan para murid rasul tersebut, pada dasarnya mereka memiliki kesamaan dalam konsep ketauhidan”

Berdasarkan hal diatas bisa saya simpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Catat baik-baik: TRINITAS BUKAN DAN TIDAK SAMA DENGAN TRITHEISME ATAU POLITHEISME. Bila anda tetap ngotot bahwa Trinitas adalah bentuk politeisme, silahkan! Itu hak anda untuk berfantasi atau berkhayal tentang ajaran kristen. Seberapa keras dan serius anda berkhayal tentang gajah yg bersayap dan bisa terbang, itu tjdak akan pernah membuatnya nyata atau khayalan anda jadi benar. Demikian juga fantasi2 anda bahwa Tritunggal = Politheisme.

2. Jangan memaksa menilai ajaran orang lain sebelum anda benar-benar mempelajarinya dari sumbernya langsung. Awas jatuh pada fitnah yang dilarang dalam agama manapun.

3. Istilah-istilah yang dipakai dalam ilmu ketuhanan Kristiani haruslah dipahami sesuai konteksnya. Misalnya istilah Bapa atau Anak, haruslah dipahami sesuai pengertian dalam iman Kristen itu sendiri. Jangan anda pahami menurut pemikiran anda sendiri. Kalau benar gak masalah. Kalau salah????

 

Salam Kasih Dalam Kristus

-ZoeLife-

 




Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

  1. Sony 04 Jun 2019, 20:49:30 WIB

    shalom..Mohon berkenan kami dikirimi artikel via email kami, Trimakasih Tuhan Memberkari

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Komentar Terakhir

  • Jesusprophet

    Kredo 1:Mereka=subjek,mengenal=predikat,Engkau satu satunya Allah yang benar=objek+keterangan ...

    View Article
  • Denis

    ???? ????? Yeshua haMashiach Yeshua sang Mesias ?? ????? Ben Elohim Putra Elohim ?? ...

    View Article
  • Sony

    shalom..Mohon berkenan kami dikirimi artikel via email kami, Trimakasih Tuhan ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video